Sabtu, 28 Juni 2008

maratua ocean






Pulau Maratua merupakan bagian dari Kabupaten Berau Kalimantan Timur. Pulau ini termasuk kedalam Kawasan Konservasi Laut (KKL) Berau. Ketika saya singgah di Maratua dan sempat tinggal di dua dari empat desa yang ada, saya menemui perpaduan khas antara keindahan alam dengan pasir putihnya dan keramahan penduduk desa. Setiap hari meyantap hasil laut segar, tangkapan nelayan, dijamin memberi asupan gizi yang lebih dari cukup :D


Pulau ini memberikan kesan mendalam yang mungkin tak dapat saya lupakan. Di sinilah saya pertama kali dalam hidup saya menemui hiu, face to face di alam bebas. Ceritanya ketika saya snorkeling di sekitar Pantai Lumantang, tiba-tiba di hadapan saya muncul hiu yang luar biasa gede. Walaupun saya memegang kamera yang stand by di tangan, saya tak mampu memencet record button. Jangankan mengabadikan pemandangan yang langka ini…untuk bergerak saja, saya sungguh tak sanggup. Kancilen, orang jawa bilang. Saya hanya mematung sambil berujar dalam hati,”Gusti…menawi menika sampun wayahipun, kula pasrah Gusti. Nyuwun ngapunten sedaya dosa kawula…(Tuhan…kalo memang ini sudah waktunya, saya pasrah Tuhan. Mohon ampuni segala dosa hamba :Jawa)”. Hiu itupun semakin dekat ke hidung saya. Sungguh saya merasakan hawa maut, seperti mau dijemput malaikat penjemput nyawa…. Namun kira-kira 1m lagi hiu itupun merubah haluan dan lewat di samping saya persis dengan jarak kira-kira setengah meter. Saat itu saya perkirakan panjangnya sekitar 2m. Air laut yang keruh dengan pasir akibat pasang naik segera melenyapkan pandangan saya terhadap hiu tadi. Masih ketakutan saya segera berenang menjauh secepat mungkin, sambil berharap hiu tadi tidak berbalik dan mengejar.

Thriller ini terekam jelas di otak saya…namun sayangnya tidak terekam di kamera saya. Lagian gimana mau merekam kalau saya sudah terbujur kaku mengapung gara-gara takut. Ketika saya mengkonfirmasi ahli laut dari Joint Programme WWF-TNC, Om Sony yang mendampingi saya selama liputan, beliau bilang kalau hiu itu tak perlu ditakuti. Hiu yang saya temui berjenis leopard shark, jenis pemakan plankton. Guoblok sekali saya ini…ketakutan setengah mati dengan hiu yang vegetarian he3… Selama ini secara tidak sadar mindset saya terbentuk dari berbagai tayangan film dan TV, ditambah berbagai cerita keganasan hiu…namun ternyata ada juga hiu yang tidak ganas :D

Jadwal pengambilan gambar bawah air pun tiba…dan saya ga sabar mengabadikan keindahan dunia bawah air di laut Maratua. Sempat grogi juga dengan pengalaman pertama menyelam, walaupun sebelumnya saya didrill dengan keras oleh Om Sony. Namun saya yakin, asal melakukan semua SOP (Standard Operational Procedure) dengan benar, maka semua resiko bisa diminimalisir, apalagi ada Om Sony yang berada di samping saya. Persiapan sudah cukup dan kami berdua mulai terjun ke air. Saya sempat curiga ketika saya harus melakukan 7 kali equity pressure (menyamakan tekanan di rongga telinga dengan tekanan air supaya gendang telinga tidak pecah) sebelum mencapai dasar laut. Kami sepakat untuk menyelam di kedalaman 4m, karena kamera saya hanya sportpack untuk maksimal kedalaman 5m, bukan marinepack yang bisa mencapai puluhan meter. Dasar Om Sony…dia membawa hingga kedalaman 10m. Memang sih semakin dalam, arus akan semakin tenang, tapi cahaya juga semakin tipis, dan saya tidak membawa lighting sama sekali.

Sekali lagi saya terpana dengan pemandangan di depan saya. Berbagai jenis ikan warna-warni di sela-sela terumbu karang yang bergoyang, sungguh membuat saya takjub. Seolah saya dibawa masuk ke dalam dunia lain…dunia bawah laut yang luar biasa indah. Kalau anda adalah scubadiver, anda pasti akan mengamini hal ini. Tanpa buang waktu lagi, saya segera mengabadikan pemandangan cantik di hadapan saya. Setiap kali ada objek menarik yang melintas, Om Sony segera memberitahu saya untuk diambil gambar. Maklum, kalau saya sedang fokus mengambil gambar, suka lupa mengamati keadaan sekitar (kebiasaan buruk yang tidak layak ditiru :D). Di tengah keasyikan saya mengambil gambar, tiba-tiba Om Sony seperti mau menarik saya, tapi tidak bisa. Saya terlalu berat, karena memakai pemberat sampai 8kg. Maklum saya aslinya kameramen daratan, jadi susah tenggelam. Tiba-tiba di hadapan saya muncul ular laut yang belang-belang muncul di sela-sela terumbu karang di hadapan saya. Untung saja saya sempat menghindar, dan tidak menghalangi jalan ular tadi. Ular laut memang setiap waktu tertentu perlu muncul ke perpmukaan untuk bernafas, dan di saat inilah ia jadi berbahaya. Kalau sedang berenang-renang saja sih tidak apa-apa, bahkan kata Om Sony kita bisa bermain-main dengan memegangi ekornya sambil berenang bersama, tapi kalau saat krusial seperti ini, ular laut tidak segan-segan mematuk apapun yang menghalangi jalannya.

Bahaya memang sudah lewat, tapi konsentrasi saya jadi buyar. Sesi pengambilan gambar jadi kacau balau. Saya tidak mampu focus dengan objek-objek cantik di depan saya. Akhirnya saya memutuskan untuk menyudahi saja sesi penyelaman yang sebenarnya sangat menyenangkan…kalau saja tidak bertemu satu lagi binatang laut yang saya takuti (he3…kameramen kok penakut ya…). Sesampai di atas Om Sony sudah bisa menebak apa yang saya rasakan…dan sekali lagi saya merasakan kebodohan saya…..

Well…dunia bawah air memang menakjubkan…namun ternyata menyimpan begitu banyak rahasia yang tak kurang menakjubkan juga. What a great island …..a great experience….a great friend (dengan pesan legendaries ‘don’t try this at another place’)….that I’ve found……Someday I’ll be back ….viva Maratua

Rabu, 21 Mei 2008

Lost Paradise


well i've found the lost paradise...
kepulauan di kabupaten berau kalimantan timur....
ada yang namanya pulau sangalaki...
di sini nih ada pusat perteluran penyu terbesar di asia...
penyu hijau yang bertelur di sini memang dapat dipastikan lahir di sini juga...
mereka mencari makan hingga malaysia, dan filipina...bahkan tercatat ada juga yang dari semoa...
terlihat dari tag...semacam tanda yang dipasang pada flipper penyu...supaya ketahuan jalur migrasinya...
penyu ini akan selalu kembali ke tempat kelahirannya untuk bertelur...sejauh apapun mereka berkelana mencari makan...namun pasti akan kembali juga...
WHY???...karena mereka akan langsung merekam medan magnet bumi pada saat mereka menetas...sungguh memori yang luar biasa....

penyu semakin terancam punah akibat kerusakan pada ekosistem perteluran mereka...dan tentunya perburuan telur penyu...memang sih sudah ada peraturan yang melarang perburuan telur penyu dan penyu itu sendiri...namun as we know...what kind of law is it...


beruntung sekali di sana saya bisa menemukan tukik2 yang baru saja menetas...lucu sekali bentuk2 tukik2 mungil...apalagi menemukan salah satu tukik albino...
nah si albino yang berwarna putih ini selain rasio kelahirannya cuma 1:2.000.000 tukik yang menetas...biasanya juga umurnya tidak panjang...beberapa jam setelah menetas, biasanya langsung mati...
tapi yang saya temukan ini sudah berumur sekitar sepuluh hari........


selain penyu...emang dahsyat tempat ini buat berscuba atau cukup snorkelling...
kalo beruntung bisa ketemu ama manta ray...sejenis ikan pari yang super gede...dan rentang 'sayap'nya bisa mencapai 2m...tapi ati2 ya...kalo lagi menuju pantai...soalnya banyak sting ray...alias pari yang mempunyai semacam bisa di ekornya....kecil sih...tapi.......
pasir pantainya putih bersih...trus ada biawak yang bebas berkeliaran di sini...belum lagi kicauan burung2 liar an ayam hutan yang cantik...tak kalah heboh...sang penguasa angkasa...si elang laut yang setiap saat berputar-putar di udara...what a great lost paradise...

Rabu, 16 April 2008

catatan pinggir

Hidup adalah sebuah pilihan...namun kadang kita terkondisikan untuk memilih sesuatu yang tidak kita pernah kita bayangkan. Menjadi jurnalis bisa disebut sebagai sebuah pilihan, namun ternyata bagi saya kok jadi sebuah panggilan. Mungkin lebih tepatnya ada 'invicible hands' yang menuntun saya ke jalan ini. Berawal dari sebuah keisengan mendaftar di sebuah radio swasta jadi penyiar, hingga keisengan mendaftar untuk jadi video journalist. Ketika jalan yang lain seolah tertutup...celah ini terbuka lebar. Anehnya sungguh saya dapat menikmati kehidupan broadcast yang serba cepat, serba mobile, dan tentunya serba penuh pressure. Ah...biarlah ini menjadi sebuah rangkaian catatan hidup yang terus melaju. It's just the begining of my journey....wich I don't even know where to end...